Pembangunan Berkelanjutan dan Pendekatan Terpadu untuk Pengelolaan Sumber Daya Air

Pada United Nations Conference on Environment and Development tahun 1992, konsep ‘pembangunan berkelanjutan’ telah disahkan sebagai prinsip pemandu untuk pembangunan ekonomi serta pengelolaan lingkungan. Komisi Bruntland 1978 menekankan bahwa pembangunan berkelanjutan berfokus pada memenuhi kebutuhan generasi yang sekarang dan masa depan. Berdasar pada pemahaman bahwa sumber daya yang digunakan oleh manusia terbatas dan bahwa lingkungan tidak dapat dijadikan sebagai korban karena manfaat-manfaatnya serta kesehatan manusia dan ekosistem di dunia, maka ‘pembangunan berkelanjutan’ diinterprestasikan sebagai konsep yang bertujuan mencapai perkembangan sosial dan ekonomi sembari mempertahankan kualitas lingkungan, hal ini juga berdasar pada pemahaman bahwa masyarakat dan lingkungan alam membentuk sistem kompleks dari komponen-komponen yang berinteraksi, komponen politis, kebudayaan, sosial, dan lingkungan dan satu komponen mempengaruhi komponen yang lain sepanjang waktu. Secara konvensional. Dalam membahas persoalan serta masalah dalam masing-masing komponen dalam sistem ini, beberapa pendekatan sektoral telah diadopsi. Salah satu contohnya, adalah bahwa irigasi air berhubungan dengan sektor agrikultur, sementara alokasi air keseluruhan dan pemeliharaan kualitas dilaksanakan oleh sektor sumber daya air. Oleh karena itu, jika seseorang akan membahas persoalan dan masalah mengenai salah satu komponen sistem, maka diimplikasikan bahwa komponen lain perlu dikelola bersama-sama, yang pada akhirnya menimbulkan kebutuhan penyusunan institusional silang sektoral.

Masing-masing persoalan pembangunan berkelanjutan telah diperdebatkan dalam bidang sumber daya air tawar  Air tawar hanya terdiri dari 2-53% dari air di permukaan Bumi, dan kebanyakan air tawar di Bumi terkunci dalam es, fermafrost, dan gletser 1.74% atau di dalam air tanah 0.76%(Shikolomanov, 1993). Oleh karena itu, hanya sedikit bagian dari air tawar Bumi yang tersedia untuk digunakan manusia. Terlebih lagi, air tawar yang tersedia sementara dan leluasa didistribusikan secara tidak merata, yang menghalangi penggunaan yang tepat waktu dan efektif dari sumber daya air di skala lokal. Ditegaskan bahwa distrisbusi yang tidak merata dari sumber daya air tawar ini dapat lebih dan lebih ditegaskan, tidak hanya oleh pertumbuhan populasi masyarakat yang tidak merata, tetapi juga disebabkan oleh perubahan lingkungan global, seperti pemanasan global dan degradasi tanah serta tanaman. Menurut UNEP 2000, kira-kira 20% populasi dunia kekurangan akses untuk air minum yang aman dan sekitar 50% kekurangan sanitasi yang memadai. Pada tahun 2025, sebanyak dua pertiga populasi dunia akan menderita karena tekanan air menengah sampai tinggi (WMO, 1997). Situasi ini semakin serius jika populasi global semakin tumbuh pada kecepatan yang sekarang ini. Terlebih lagi, perubahan iklim global serta perubahan lingkungan yang terkait, termasuk peristiwa hidrologis yang ekstrim yang telah diprediksi, diperkirakan menimbulkan distribusi sumber daya air tawar yang semakin tidak merata. Persoalan lingkungan internasional yang muncul di sekeliling waktu UNCED, seperti keanekaragaman hayati, disertifikasi, serta perubahan iklim, yang dicakup oleh “Konvensi Rio”, juga dikaitkan dengan kualitas dan ketersediaan air.

Secara konvensional, usaha-usaha telah dilaksanakan untuk pengendalian dan pengelolaan sumber daya air sendiri, seperti pengukuran pengendalian banjir struktural, serta mengurangi efek langsung pencemaran dari limbah kota dan industri. Tetapi, sekarang ini dikenal bahwa aktifitas manusia dan peristiwa alami dalam siklus hidrologis, geo-kimiawi, serta ekologi dalam DAS mempengaruhi ketersediaan dan kualitas sumber daya air tawar. DAS (Daerah Aliran Sungai): kumpulan sungai pada suatu sistem cekungan dengan aliran keluar atau muara tunggal/wilayah tampungan air yang masuk ke dalm wilayah air sungai. Batas wilayah DAS diukur dengan cara menghubungkan titik-titik tertinggi di antara wilayah aliran sungai yang satu dengan yang lain. Masalah-masalah DAS di Indonesia: 1. Banjir 2. Produktivitas tanah menurun 3. Pengendapan lumpur pada waduk 4. Saluran irigasi 5. Proyek tenaga air 6. Penggunaan tanah yang tidak tepat (perladangan berpindah, pertanian lahan kering dan konservasi yang tidak tepat) Faktor-faktor yang mempengaruhi DAS di Indonesia: Iklim .Daerah-daerah DAS 1. Hulu sungai, berbukit-bukit dan lerengnya curam sehingga banyak jeram. 2. Tengah sungai, relatif landai. Banyak aktifitas penduduk. 3. Hilir sungai, landai dan subur. Banyak areal pertanian.Pengelolaan DAS diatur dalam: Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.39/Menhut-II/2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan DAS Terpadu Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.328/Menhut-II/2009 tentang Penetapan Daerah Aliran Sungai (DAS) Prioritas dalam rangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2010-2014; Peraturan Direktur Jenderal RLPS Nomor: P.04/V-SET/2009 tentang Pedoman Monitoring dan Evaluasi DAS; Lampiran Peraturan Direktur Jenderal RLPS Nomor: P.04/V-SET/2009 tentang Pedoman Monitoring dan Evaluasi DAS;dan Kerangka Kerja Pengelolaan DAS di Indonesia sebagai amanah Inpres Nomor: 5 Tahun 2008 tentang Fokus Program Ekonomi Tahun 2008-2009.

Tetapi sayangnya, fakta bahwa di dalam satu DAS, berbagai faktor, termasuk faktor hidrologis, geo-kimiawi, biologis atau sosial-ekonomi bahkan politik dan kebudayaan, membentuk sistem yang lengkap dari hubungan yang relevan terhadap kualitas dan kuantitas air, hal inilah yang membuat pengelolaan DAS sulit untuk direncanakan. Untuk membuat situasi ini lebih rumit, manajer sumber daya air biasanya memasang banyak tujuan untuk penggunaan dari sumber daya air tawar yang tersedia dan terbatas. Pada saat yang sama, tujuan pengelolaan yang berbeda dari berbagai sektor dalam banyak kasus saling bertentangan, dan, oleh karena itu, suatu mekanisme koordinasi institutional diperlukan untuk meraih tujuan-tujuan tersebut secara efektif.

Untuk mencapai ketahanan dari pengelolaan sumber daya air, dan juga berdasar konsep menghubungkan manusia dengan sistem alam, Agenda 21, Bab 18, mencantumkan, sebagai komponen pertama, ‘konsep pembangunan dan pengelolaan pengembangan sumber daya air terpadu’ . Seperti konsep pembangunan berkelanjutan, yang juga ditafsirkan secara berbeda oleh banyak orang, konsep ‘pengelolaan sumber daya air terpadu (IWRM)’ juga ditafsirkan secara berbeda oleh banyak peneliti dan pengelola air. Dengan melihat sejarah perkembangan konsep pengelolaan air, seperti di atas, pengelolaan sumber daya air mengubah fokusnya dari pengelolaan sumber daya air dengan tujuan tunggal menjadi pengelolaan dengan tujuan ganda dan disipliner ganda. Lebih lanjut, pendekatan pengelolaan telah berubah dari pengelolaan sumber air menjadi pengelolaan DAS. IWRM dikarakterisasikan oleh tiga komponen yang terpisah: pendekatan DAS dalam hal ini termasuk air bawah tanah, pengelolaan ‘aquifer’, penyusunan institutional antar disipliner dan antar sektor dan keterlibatan pemegang saham yang lebih luas, serta tujuan-tujuan pengelolaan ganda. Tetapi, dinyatakan bahwa IWRM masih mentargetkan sumber daya tunggal—yaitu air atau lebih akuratnya air tawar dengan bermacam-macam penggunaan. Tujuan-tujuan pengelolaan terkait dengan meningkatnya kebutuhan air dengan pengelolaan persediaan dan permintaan untuk penggunaan manusia baru-baru ini dengan fokus terhadap pemeliharaan fungsi ekologi serta kualitas air. Karakteristik dari IWRM ini kontras dengan ‘Pengelolaan Area Pantai Terpadu (Integrated Coastal Area Management), yang bertujuan untuk pengelolaan sumber daya alam yang berlipat ganda dan penggunaan yang bermacam-macam berdasar pada rencana fisik dan pengelolaan sumber daya untuk bidang dan perairan pantai UNEP/MAP/PAP, 1999.

Untuk mempromosikan konsep IWRM dan untuk menghadirkan pendekatan yang programatis serta strategis, UNEP meluncurkan program air tawar yang disebut program Environmentally Sound Management of Inland Waters (EMINWA), tahun 1986. program ini dirancang untuk membantu pemerintah menyatukan pertimbangan lingkungan ke dalam pengelolaan dan pengembangan sumber daya air tawar, dengan suatu tinjauan untuk merekonsiliasi minat-minat yang bertentangan dan memastikan pengembangan regional dari sumber daya agar dapat selaras dengan lingkungan yang berhubungan dengan air alam dan manusia ke seluruh sistem air.

Tujuan-tujuannya didefinisikan sebagai berikut:

1. membantu pemerintah untuk mengembangkan, menyetujui, dan melaksanakan program pengelolaan lingkungan yang logis untuk sistem air tawar dan untuk menggunakan pendekatan ini untuk tujuan demonstrasi.

2. melatih para ahli dan membangun jaringan pelatihan dalam mengembangkan negara untuk melaksanakan program pengelolaan lingkungan yang logis, termasuk persediaan air minum dan sanitasi.

3. Menyiapkan prinsip dan panduan untuk program pengelolaan lingkungan yang logis dari sistem air tawar.

4. Membuat penilaian dunia dari keadaan lingkungan untuk sistem air tawar.

5. menginformasikan pada media masa tentang pencapaian dan kegiatan program dan untuk meningkatkan kesadaran publik akan pengembangan lingkungan air secara logis

Untuk menepati tujuan-tujuan tersebut, pendekatan tiga tingkat telah diambil:

1. Pengembangan penelitian mengenai status dan masalah lingkungan dalam skala DAS hal ini kemudian juga menjadi kesadaran tentang bermacam-macam pemegang saham yang terlibat dalam pengelolaan lingkungan di DAS

2. Berdasar masalah prioritas lingkungan yang diidentifikasi, pengembangan rencana kegiatan DAS yang luas untuk membahas masalah yang diidentifikasikan dan diprioritaskan. Rencana kegiatan ini ditujukan untuk menggabungkan situasi lingkungan ke dalam skema pengelolaan air dan pembangunan berkelanjutan pada sasaran DAS.

3. Pelaksanaan rencana kegiatan yang dikembangkan dengan mengkoordinasikan berbagai sektor dan meraih dukungan internasional.

Pada awalnya menempatkan penekanan pada DAS, UNEP menerapkan pendekatan ini ke DAS Zambesi dibagi oleh Mozambik, Malawi, Zambia, Zimbabwe, Botswana, Angola, Namimbia dan DAS Danau Chad ?dibagi oleh Algeria, Sudan, Republik Amerika Tengah, Chad, Nigeria, dan Kamerun. Selain itu, penelitian awal juga disiapkan untuk DAS Aral dibagi oleh Kirgix, Kazahtan, Ubezkistan, dan Turkmenistan, DAS Mekong dibagi oleh China, Myanmar, Vietman, Kamboja, Thailand, dan Laos, Xinjiang Utara RRC, lembah sungai Erhai, Lembah Sungai San Juan Kosta Rika dan Nikaragua serta DAS Danau Titicaca Bolivia dan Peru.

Pada United Nations Conference on Environment and Development tahun 1992, konsep ‘pembangunan berkelanjutan’ telah disahkan sebagai prinsip pemandu untuk pembangunan ekonomi serta pengelolaan lingkungan. Komisi Bruntland 1978 menekankan bahwa pembangunan berkelanjutan berfokus pada memenuhi kebutuhan generasi yang sekarang dan masa depan. Berdasar pada pemahaman bahwa sumber daya yang digunakan oleh manusia terbatas dan bahwa lingkungan tidak dapat dijadikan sebagai korban karena manfaat-manfaatnya serta kesehatan manusia dan ekosistem di dunia, maka ‘pembangunan berkelanjutan’ diinterprestasikan sebagai konsep yang bertujuan mencapai perkembangan sosial dan ekonomi sembari mempertahankan kualitas lingkungan, hal ini juga berdasar pada pemahaman bahwa masyarakat dan lingkungan alam membentuk sistem kompleks dari komponen-komponen yang berinteraksi, komponen politis, kebudayaan, sosial, dan lingkungan dan satu komponen mempengaruhi komponen yang lain sepanjang waktu. Secara konvensional. Dalam membahas persoalan serta masalah dalam masing-masing komponen dalam sistem ini, beberapa pendekatan sektoral telah diadopsi. Salah satu contohnya, adalah bahwa irigasi air berhubungan dengan sektor agrikultur, sementara alokasi air keseluruhan dan pemeliharaan kualitas dilaksanakan oleh sektor sumber daya air. Oleh karena itu, jika seseorang akan membahas persoalan dan masalah mengenai salah satu komponen sistem, maka diimplikasikan bahwa komponen lain perlu dikelola bersama-sama, yang pada akhirnya menimbulkan kebutuhan penyusunan institusional silang sektoral.

Masing-masing persoalan pembangunan berkelanjutan telah diperdebatkan dalam bidang sumber daya air tawar Air tawar hanya terdiri dari 2-53% dari air di permukaan Bumi, dan kebanyakan air tawar di Bumi terkunci dalam es, fermafrost, dan gletser 1.74% atau di dalam air tanah 0.76%(Shikolomanov, 1993). Oleh karena itu, hanya sedikit bagian dari air tawar Bumi yang tersedia untuk digunakan manusia. Terlebih lagi, air tawar yang tersedia sementara dan leluasa didistribusikan secara tidak merata, yang menghalangi penggunaan yang tepat waktu dan efektif dari sumber daya air di skala lokal. Ditegaskan bahwa distrisbusi yang tidak merata dari sumber daya air tawar ini dapat lebih dan lebih ditegaskan, tidak hanya oleh pertumbuhan populasi masyarakat yang tidak merata, tetapi juga disebabkan oleh perubahan lingkungan global, seperti pemanasan global dan degradasi tanah serta tanaman. Menurut UNEP 2000, kira-kira 20% populasi dunia kekurangan akses untuk air minum yang aman dan sekitar 50% kekurangan sanitasi yang memadai. Pada tahun 2025, sebanyak dua pertiga populasi dunia akan menderita karena tekanan air menengah sampai tinggi (WMO, 1997). Situasi ini semakin serius jika populasi global semakin tumbuh pada kecepatan yang sekarang ini. Terlebih lagi, perubahan iklim global serta perubahan lingkungan yang terkait, termasuk peristiwa hidrologis yang ekstrim yang telah diprediksi, diperkirakan menimbulkan distribusi sumber daya air tawar yang semakin tidak merata. Persoalan lingkungan internasional yang muncul di sekeliling waktu UNCED, seperti keanekaragaman hayati, disertifikasi, serta perubahan iklim, yang dicakup oleh “Konvensi Rio”, juga dikaitkan dengan kualitas dan ketersediaan air.

Secara konvensional, usaha-usaha telah dilaksanakan untuk pengendalian dan pengelolaan sumber daya air sendiri, seperti pengukuran pengendalian banjir struktural, serta mengurangi efek langsung pencemaran dari limbah kota dan industri. Tetapi, sekarang ini dikenal bahwa aktifitas manusia dan peristiwa alami dalam siklus hidrologis, geo-kimiawi, serta ekologi dalam DAS mempengaruhi ketersediaan dan kualitas sumber daya air tawar. DAS (Daerah Aliran Sungai): kumpulan sungai pada suatu sistem cekungan dengan aliran keluar atau muara tunggal/wilayah tampungan air yang masuk ke dalm wilayah air sungai. Batas wilayah DAS diukur dengan cara menghubungkan titik-titik tertinggi di antara wilayah aliran sungai yang satu dengan yang lain. Masalah-masalah DAS di Indonesia: 1. Banjir 2. Produktivitas tanah menurun 3. Pengendapan lumpur pada waduk 4. Saluran irigasi 5. Proyek tenaga air 6. Penggunaan tanah yang tidak tepat (perladangan berpindah, pertanian lahan kering dan konservasi yang tidak tepat) Faktor-faktor yang mempengaruhi DAS di Indonesia: Iklim .Daerah-daerah DAS 1. Hulu sungai, berbukit-bukit dan lerengnya curam sehingga banyak jeram. 2. Tengah sungai, relatif landai. Banyak aktifitas penduduk. 3. Hilir sungai, landai dan subur. Banyak areal pertanian.Pengelolaan DAS diatur dalam: Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.39/Menhut-II/2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan DAS Terpadu Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.328/Menhut-II/2009 tentang Penetapan Daerah Aliran Sungai (DAS) Prioritas dalam rangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2010-2014; Peraturan Direktur Jenderal RLPS Nomor: P.04/V-SET/2009 tentang Pedoman Monitoring dan Evaluasi DAS; Lampiran Peraturan Direktur Jenderal RLPS Nomor: P.04/V-SET/2009 tentang Pedoman Monitoring dan Evaluasi DAS;dan Kerangka Kerja Pengelolaan DAS di Indonesia sebagai amanah Inpres Nomor: 5 Tahun 2008 tentang Fokus Program Ekonomi Tahun 2008-2009.

Tetapi sayangnya, fakta bahwa di dalam satu DAS, berbagai faktor, termasuk faktor hidrologis, geo-kimiawi, biologis atau sosial-ekonomi bahkan politik dan kebudayaan, membentuk sistem yang lengkap dari hubungan yang relevan terhadap kualitas dan kuantitas air, hal inilah yang membuat pengelolaan DAS sulit untuk direncanakan. Untuk membuat situasi ini lebih rumit, manajer sumber daya air biasanya memasang banyak tujuan untuk penggunaan dari sumber daya air tawar yang tersedia dan terbatas. Pada saat yang sama, tujuan pengelolaan yang berbeda dari berbagai sektor dalam banyak kasus saling bertentangan, dan, oleh karena itu, suatu mekanisme koordinasi institutional diperlukan untuk meraih tujuan-tujuan tersebut secara efektif.

Untuk mencapai ketahanan dari pengelolaan sumber daya air, dan juga berdasar konsep menghubungkan manusia dengan sistem alam, Agenda 21, Bab 18, mencantumkan, sebagai komponen pertama, ‘konsep pembangunan dan pengelolaan pengembangan sumber daya air terpadu’ . Seperti konsep pembangunan berkelanjutan, yang juga ditafsirkan secara berbeda oleh banyak orang, konsep ‘pengelolaan sumber daya air terpadu (IWRM)’ juga ditafsirkan secara berbeda oleh banyak peneliti dan pengelola air. Dengan melihat sejarah perkembangan konsep pengelolaan air, seperti di atas, pengelolaan sumber daya air mengubah fokusnya dari pengelolaan sumber daya air dengan tujuan tunggal menjadi pengelolaan dengan tujuan ganda dan disipliner ganda. Lebih lanjut, pendekatan pengelolaan telah berubah dari pengelolaan sumber air menjadi pengelolaan DAS. IWRM dikarakterisasikan oleh tiga komponen yang terpisah: pendekatan DAS dalam hal ini termasuk air bawah tanah, pengelolaan ‘aquifer’, penyusunan institutional antar disipliner dan antar sektor dan keterlibatan pemegang saham yang lebih luas, serta tujuan-tujuan pengelolaan ganda. Tetapi, dinyatakan bahwa IWRM masih mentargetkan sumber daya tunggal—yaitu air atau lebih akuratnya air tawar dengan bermacam-macam penggunaan. Tujuan-tujuan pengelolaan terkait dengan meningkatnya kebutuhan air dengan pengelolaan persediaan dan permintaan untuk penggunaan manusia baru-baru ini dengan fokus terhadap pemeliharaan fungsi ekologi serta kualitas air. Karakteristik dari IWRM ini kontras dengan ‘Pengelolaan Area Pantai Terpadu (Integrated Coastal Area Management), yang bertujuan untuk pengelolaan sumber daya alam yang berlipat ganda dan penggunaan yang bermacam-macam berdasar pada rencana fisik dan pengelolaan sumber daya untuk bidang dan perairan pantai UNEP/MAP/PAP, 1999.

Untuk mempromosikan konsep IWRM dan untuk menghadirkan pendekatan yang programatis serta strategis, UNEP meluncurkan program air tawar yang disebut program Environmentally Sound Management of Inland Waters (EMINWA), tahun 1986. program ini dirancang untuk membantu pemerintah menyatukan pertimbangan lingkungan ke dalam pengelolaan dan pengembangan sumber daya air tawar, dengan suatu tinjauan untuk merekonsiliasi minat-minat yang bertentangan dan memastikan pengembangan regional dari sumber daya agar dapat selaras dengan lingkungan yang berhubungan dengan air alam dan manusia ke seluruh sistem air.

Tujuan-tujuannya didefinisikan sebagai berikut:

1. membantu pemerintah untuk mengembangkan, menyetujui, dan melaksanakan program pengelolaan lingkungan yang logis untuk sistem air tawar dan untuk menggunakan pendekatan ini untuk tujuan demonstrasi.

2. melatih para ahli dan membangun jaringan pelatihan dalam mengembangkan negara untuk melaksanakan program pengelolaan lingkungan yang logis, termasuk persediaan air minum dan sanitasi.

3. Menyiapkan prinsip dan panduan untuk program pengelolaan lingkungan yang logis dari sistem air tawar.

4. Membuat penilaian dunia dari keadaan lingkungan untuk sistem air tawar.

5. menginformasikan pada media masa tentang pencapaian dan kegiatan program dan untuk meningkatkan kesadaran publik akan pengembangan lingkungan air secara logis

Untuk menepati tujuan-tujuan tersebut, pendekatan tiga tingkat telah diambil:

1. Pengembangan penelitian mengenai status dan masalah lingkungan dalam skala DAS hal ini kemudian juga menjadi kesadaran tentang bermacam-macam pemegang saham yang terlibat dalam pengelolaan lingkungan di DAS

2. Berdasar masalah prioritas lingkungan yang diidentifikasi, pengembangan rencana kegiatan DAS yang luas untuk membahas masalah yang diidentifikasikan dan diprioritaskan. Rencana kegiatan ini ditujukan untuk menggabungkan situasi lingkungan ke dalam skema pengelolaan air dan pembangunan berkelanjutan pada sasaran DAS.

3. Pelaksanaan rencana kegiatan yang dikembangkan dengan mengkoordinasikan berbagai sektor dan meraih dukungan internasional.

Pada awalnya menempatkan penekanan pada DAS, UNEP menerapkan pendekatan ini ke DAS Zambesi dibagi oleh Mozambik, Malawi, Zambia, Zimbabwe, Botswana, Angola, Namimbia dan DAS Danau Chad ?dibagi oleh Algeria, Sudan, Republik Amerika Tengah, Chad, Nigeria, dan Kamerun. Selain itu, penelitian awal juga disiapkan untuk DAS Aral dibagi oleh Kirgix, Kazahtan, Ubezkistan, dan Turkmenistan, DAS Mekong dibagi oleh China, Myanmar, Vietman, Kamboja, Thailand, dan Laos, Xinjiang Utara RRC, lembah sungai Erhai, Lembah Sungai San Juan Kosta Rika dan Nikaragua serta DAS Danau Titicaca Bolivia dan Peru.

Pangan Transgenik

Pangan transgenik atau GMO (genetically modified organism) adalah penganan yang bahan dasarnya berasal dari organisme hasil rekayasa genetika. Teknologi ini sebenarnya bertujuan meningkatkan dan menyempurnakan kualitas pangan. Dengan bioteknologi ini, gen dari berbagai sumber dapat dipindahkan ke tanaman yang akan diperbaiki sifatnya (Andang 2006). Dilihat dari tujuan dikembangkannya, teknologi ini baik terutama dalam mengatasi masalah penyediaan pangan. Pangan dengan kualitas baik dan harga cukup terjangkau dapat menguntungkan masyarakat juga petani. Sebagai contoh, tomat yang awalnya tidak bisa ditanam di daerah bersuhu rendah direkayasa supaya dapat menjadi tanaman tahan beku dan memiliki musim tumbuh lebih lama. Contoh lainnya kedelai yang rawan akan hama lantas disisipi bakteri dari tanah yang mampu mengeluarkan pestisida alami, sehingga petani dapat meminimalkan penggunaan pestisida kimia

Pangan transgenik juga dapat menjadi solusi untuk masalah penyediaan pangan di Indonesia yaitu dengan memperbaiki mutu dan meningkatkan jumlah produksi melalui teknologi DNA rekombinan. Dengan upaya tersebut diharapkan diperoleh produk pangan yang unggul dan sesuai dengan kesehatan manusia.  Beberapa manfaat yang bisa diperoleh dari konsumsi pangan transgenik diantaranya adalah jika dimodifikasi sedemikian rupa pangan transgenik memiliki kandungan nutrisi atau komponen gizi yang lebih baik daripada pangan sejenis yang non-transgenik. Selain itu juga memiliki ketahanan yang tinggi terhadap herbisida dan daya simpan yang lebih lama (Siagian 2009). Melihat dari manfaat dan kelebihannya pangan transgenik baik untuk tetap dikembangkan.

Selain kelebihan dan manfaat yang dapat diperoleh, ada juga kekurangan dan dampak buruk yang ditimbulkan oleh konsumsi pangan transgenik. Hal-hal tersebut yang menjadi permasalahan yang sampai saat ini masih diperdebatkan. Pangan hasil rekayasa genetika ini berisiko mengandung senyawa toksik (racun), alergen (pemicu alergi), dan telah mengalami perubahan nilai gizi. Catatan buruk yang ditimbulkan oleh pangan transgenik menimbulkan kerugian dan berbahaya. Untuk itu perlu adanya pengawasan yang dilakukan terhadap peredaran pangan transgenik. Salah satunya dengan pemberian label yang menyatakan produk tersebut merupakan pangan transgenik. Sebelum beredar pangan transgenik juga harus melalui serangkaian uji keamanan untuk memastikan bahwa produk tersebut layak konsumsi dan tidak berbahaya. Serangkaian uji yang dapat dilakukan diantaranya; Uji alergisitas, untuk mengetahui ada tidaknya zat pemicu alergi, uji toksisitas untuk melihat adakah racun pada pangan, uji imunitas apakah pangan itu membahayakan daya tahan tubuh atau tidak, dan uji lain yang mendukung. Tahapan uji keamanan ini sesuai dengan UU Pangan No. 7/1996, dimana pasal 13 ayat 1 dan 2 mengatur kewajiban produsen untuk menguji keamanan pangan yang dihasilkan proyek rekayasa genetika sebelum diedarkan ke masyarakat.

Permasalahan lainnya di Indonesia belum ada perangkat untuk mengontrol produk transgenik yang beredar, sehingga pemerintah belum dapat melakukan kajian untuk menetapkan bahan pangan produk transgenik apa yang boleh dan tidak boleh masuk ke sini dan dikonsumsi manusia. Kurangnya pengawasan dari BPOM sehingga pangan yang diduga mengandung bahan transgenik justru beredar di pasaran karena terdapat sertifikat GMO free atau bebas transgenik. Jika sudah seperti itu maka pilihan kembali pada konsumen yang harus lebih teliti dan bijak dalam memilih suatu bahan pangan. Karena sulit membedakan bahan pangan transgenik dengan bukan bahan transgenik maka pemberian label sangatlah penting terutama untuk masyarakat yang awam.

Dampak pangan transgenik pada kesehatan sangat bervariasi pada setiap orang. Sebagian mengeluhkan timbulnya alergi, kelainan darah, gangguan saraf, dan sebagian tidak mengeluhkan apa-apa. Dalam hal ini konsumenlah yang harus memilih dengan bijak karena pangan transgenik juga memilki resiko jangka panjang terhadap kesehatan. Pengembagan pangan transgenik dengan rekayasa genetika juga memilki dampak buruk terhadap lingkungan. Misalnya adanya perubahan kondisi lingkungan akibat suatu senyawa sampingan yang bersifat toksik dan berbahaya bagi lingkungan termasuk makhluk hidup. Pangan transgenik juga berkaitan dengan masalh politik yaitu biopolitik. Biopolitik merupakan istilah baru yang didefinisikan sebagai politisasi isu-isu bioteknologi modern di dalam kerangka arus besar politik (political stream) yang mempengaruhi kebijakan publik pada tingkat local, nasional bahkan internasional. Adanya isu-isu tersebut berpengaruh terhadap opini public yang dibatasi oleh kepentingan tertentu. Isu menguntungkan bagi MNC atau perusahaan multinasional yang pada akhirnya memonopoli perdagangan pangan transgenik. Sementara kurang tempat bagi public mengakibatkan pengembangan tanaman transgenik bagi lembaga public mengalami kesulitan.

Dalam pengembangan pangan transgenik dibutuhkan kehati-hatian agar tidak memberi dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Untuk itu dibutuhkan transparansi dari prosedur keamanan yang ilmiah. Juga dibutuhkan keterbukaan terhadap akses publik pada informasi: uji coba, uji keamanan hayati serta pelibatan petani dalam uji coba. industri yang berkecimpung dalam teknologi rekayasa genetika juga dituntut kejujurannya serta tanggung jawab moral yang tinggi dalam memproduksi pangan transgenik yang aman bagi masyarakat. Peran ilmuwan dalam pengembangan hewan dan tanaman pangan transgenik sangat berarti dalam memberi masukan kepada pemerintah terhadap pengembalian keputusan penentuan posisi hewan dan tanaman pangan transgenik dalam sektor pertanian, juga dalam penyusunan kebijakan pertanian.

Rayap adalah binatang sosial

Rayap termasuk binatang Arthropoda, kelas Insekta dari ordo Isoptera yang dalam perkembangan hidupnya mengalami metamorfosa graduil atau bertahap. Kelompok serangga ini pertumbuhannya melalui tiga tahap yaitu tahap telur, tahap nimfa dan tahap dewasa. Perkembangan hidup rayap adalah melalui metamorfosa hemimetabola , yaitu secara bertahap, yang secara teori melalui stadium (tahap pertumbuhan) telur, nimfa dan dewasa. Walaupun stadium dewasa pada serangga umumnya terdiri atas individu-individu bersayap (laron), karena sifat polimorfismenya maka di samping bentuk laron yang bersayap, stadium dewasa rayap mencakup juga kasta pekerja yang bentuknya seperti nimfa yang berwarna keputih-putihan, dan kasta prajurit yang berbentuk khusus dan berwarna lebih kecoklatan. Rayap pohon membangun rumahnya atau yang disebut lorong kembara di area batang pohon. Biasanya pohon yang digunakan adalah pohon yang telah mati, kering yang hanya tertinggal kayunya saja. Rayap jenis ini disebut dengan rayap kayu kering (Cryptotermes) yang menghuni dan makan kayu kering.

Rayap adalah binatang yang hidup berkoloni dalam jumlah yang sangat banyak. Rayap membangun sarangnya sebagai tempat untuk hidup, mencari makanan dan berkembang biak. Seluruh kehidupan rayap dilakukan didalam sarangnya. Dalam setiap koloni terdapat milyaran individu yang terbagi ke dalam kasta-kasta dengan tugas yang berbeda-beda. Kasta Reproduksi Rayap Ratu dan Raja tugasnya hanya untuk bereproduksi. Ratu dapat bertahan hidup hingga 25 tahun dan menghasilkan jutaan telur. Telur-telur yang menetas akan menghasilkan kasta rayap lain. Ciri-ciri yang khas dari rayap ratu yaitu memiliki bentuk perut (abdomen) yang besar (hingga sebesar ibu jari) yang mengandung ribuan telur. Ratu ini tinggal di tengah-tengah sarang bersama Rayap Raja, hidup untuk makan dan bereproduksi.

Rayap Pekerja Rayap ini berjumlah ribuan dan hanya bertugas untuk mencari makan bagi koloninya. Pekerja selalu bergerak vertikal hingga menemukan makanannya di luar sarang, dengan membangun jalur-jalur yang terbuat dari tanah. Mereka mengeluarkan cairan protein dari tubuhnya sehingga semua jalur yang dilalui rayap pekerja akan ditumbuhi jamur. Jamur-jamur ini dapat mensitesa benda apapun – seperti kayu – sehingga dapat menjadi lapuk. Rayap Pekerja mengambil makanannya (zat kayu atau cellulose) kemudian membawanya kembali ke sarang untuk memberikan makan pada sang Ratu.  Rayap Tentara Ini adalah kasta yang melindungi koloninya dari musuh alami yaitu semut. Rayap ini akan mengawal para pekerja dalam mencari makan. Ciri khas dari kasta tentara adalah memiliki kepala lebih besar berwarna gelap dan memiliki capit.Laron Ini merupakan kasta reproduksi. Yaitu rayap bersayap yang terbang dan bereproduksi. Mereka akan membentuk pasangan-pasangan jantan dan betina, melepaskan sayapnya dan melangsungkan perkawinan untuk membentuk koloni baru. Setiap sepasang jantan dan betina akan membangun satu koloni baru. Maka dalam siklus hidup rayap akan terdapat banyak koloni yang tersebar di sekitar kita.

Rayap mempunyai sifat dan perilaku kriptobiotik, trofalaksis, kanibalistik, dan nekrologi. Sifat kriptobiotik adalah sifat yang ingin selalu menyembunyikan diri dan menjauhi cahaya. Akibat dari sifat ini rayap selau bersembunyi ditempat gelap, dan bila terpaksa harus bejalan ditempat terbuka, mereka membuat pelindung atau liang kembara. (Tarumingkeng, 2000).